Selasa, 06 November 2012

Rambu Solo


*       Upacara Adat Rambu Solo’
Rambu solo adalah sebuah upacara adat yang mewajibkan keluarga almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Dimana adat-istiadat ini telah diwarisi secara turun-temurun.Uipacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda.Bila kaum bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara jauh lebih  banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan.Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah denga 50 ekor babi dan lama upacara sekitar 3 hari. Tetapi, sebelum jumlah itu mencukupi jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disiimpan selama bertahun-tahun di tongkonan sampai akhir keluarga allmarhum/almarhumah dapat menyiapkan hewan kurban.
                Rambu solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memaka waktu berhari-hari untuk merayakannya.Upacara ini biasanya diadakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari. Bahkan bisa samapai 2 minggu untuk kaum bangsawan. Kuburan sendiri dibuat di bagian atas  tebing di ketinggian bukit batu. Menurut kepercayaan Aluk To Dolo  ( Kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu ) di kalangan orang Toraja, semakin tinggi tempat  enazah tersebut diletakkan, maka akan cepat pula rohnya sampai pada nirwana. Kepercayaan Aluk To Dolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu pandangan pada kosmos dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing memiliki fungsi dari pengaturannya dalam kehidupan masyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti hal “mengurus dan merawat” arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari.
  
                Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadi upacara Rambu Solo’ maka orang yang menionggal tersebut masih dianggap sakit. Karena status yang masih “sakit”, maka orang yang sudah meninggal tersebut harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti  menemaninya, menyediakan, minimun, rokok dan sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah harus dijalankan seperti biasanya.

*       Pemakaman
Suasana berkabung memang terasa dengan banyaknya orang yang berbaju hitam. Namun, suasana tersebut berubah seketika saat kebaktian yang dipimpin oleh pemuka agama selesai. Teriakan angka’mi itu seperti menjadii titik balik suasana.
Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (Tongkonan Tammon) yaitu tongkonan dimana ia berasal. Disana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kurban dengan sekali tebas saj. Kerbau yang akan diembelih ditambattkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi potong-potong dan dagingnyadibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.
Jenazah yang berada di tongkonan pertama (Tongkonan Tammon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah dipindahkan lagi ke Tongkonan yang berada agak ke  atas lagi, yaitu Tongkonan Barebatu, dan disini pun prosesi pun sama dengan di Tongkonan pertama, yaitu menyembelih kerbau yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.
Jenazah diusung menggunakan duba-duba (Keranda khas Toraja). Di depan duba-duba ( merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosees mengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu). Prosesi pengarakan jenazah dari Tongkonan Barebatu menuju Rante dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat almarhum/almarhunah ikut mengusung keranda tersebut. Para lelaki yang mengangkat Keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Dalam pengarakan tersebut ada urut-urutan yang harus dilakukan, pada urutan pertama ada orang yang membawa gong besar, lalu diikuti oleh orang yang membawa Tompi Saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.
Jenazah akan disemayamkan di Rante (lapangan khusus tempat prosesi berlangsung). Disana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal sanak- saudara yang datang nanti. Karena selama acara nanti mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang berduka.
Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di Rante yang nantinya akan diletakkan Lakkien (menara tempat disemayankannya jenazahselama prosesi berlangsung). Menara ini merupakan bangunan yang paling tinggi diantara lantang-lantang yang ada di Rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di Lakkien  sebelumnya nanti akan dikubur. Di Rante s
Dah siap 2 ekor kerbau yang akan di tebas.
                Setelah jenazah sampai di Lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’  , adu hewan mamalia ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.
                Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya. Penerimaan tamu dilakukan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang sudah disediakan yaitu lantang yang berada di Rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari orang-orang Tana Toraja hingga sampai hari ini. Penguburan , baik yang dikuburkan di tebing maupun di Patane’  (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).
                Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan berpergian itu dengan pemotongan hewan biasanya berupa kerbau dan babi sebanyak mungkin. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh binatang yang dikorbankan  dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke Puyo (dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh).

*       Tingkat Upacar Rambu Solo’
Upacara Rambu Solo’  trbagi dalam bebrapa tingkatan yang mengacu pada strategi sosial masyarakat Toraja, yaitu Dipasang Bongi merupakan acara yang pemakaman yang dilaksanakan dalam satu malam; Dipatallung Bongi merupakan acara pemakaman yang dilangsungkan selama  tiga malam dan dilaksanakan di rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan; Dipalimang Bongi merupakan upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan sekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan; Dipapitung Bongi  merupakan upacra pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang setiap harinya dan dilakukan pemotongan hewan.

*       Upacara Tertinggi
Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali denga rentang waktu sekurang –kurangnya  setahun, upacara yang pertama disebut aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma’tunda, Ma’balun (membungkus jenazah), Ma’roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma’parokko Alang (menurunkan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan), dan yang terakhir Ma’palao (yakni mengusung jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir).


Referensi :
Rotua Tresna Nurhayati Manurung: Upacara Kematian Di Tana Toraja : Rambu Solo’ 2009. USU Repository ©2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar